In this article
- Perubahan Paling Mencolok di Halaman Hasil Pencarian
- 7 Praktik SEO yang ketinggalan zaman
- 1. Menulis untuk keyword, bukan untuk pertanyaan
- 2. Menulis artikel panjang demi kesan komprehensif
- 3. Menyimpan kesimpulan di bagian akhir
- 4. Mengejar posisi 1 tapi kalah di posisi teratas
- 5. Mengukur keberhasilan dari trafik saja
- 6. Mengabaikan data terstruktur karena bukan faktor ranking
- 7. Menganggap GEO menggantikan SEO
- Yang Tidak Berubah dari Strategi SEO
- FAQ
SEO di era AI secara perlahan mengubah cara kita menelusuri informasi di mesin pencari, sejak Google AI overview diluncurkan pada 14 Mei 2024 di Amerika Serikat dan resmi menjangkau Indonesia pada bulan Agustus 2024, halaman hasil pencarian tidak lagi sekadar daftar sepuluh tautan, tapi jawaban ringkasan dari Google AI overview lah yang tampil lebih dulu.
Fitur tersebut memang membantu pengguna dengan keterbatasan waktu tapi lain cerita bagi praktisi SEO bahkan juga berdampak bagi perusahaan atau pelaku umkm yang mengandalkan website sebagai sumber traffic dan pelanggan.
Coba perhatikan Google Search Console, lalu bandingkan performa 6 bulan terakhir dengan 6 bulan sebelumnya. Kalau grafik impresi naik sementara grafik klik mendatar atau justru menurun, kamu tidak sedang kehilangan peringkat namun kehilangan klik pada peringkat yang sebenarnya masih kamu pegang.
Penyebabnya adalah AI Overview, ringkasan yang disusun Google dari beberapa sumber sekaligus dan menjawab pertanyaan pengguna sebelum mereka sempat scroll ke bawah.

Masalahnya, sebagian besar praktik SEO yang kita pakai hari ini hanya berlaku untuk halaman hasil pencarian sebelum hadirnya AI overview. Beberapa di antaranya kini bukan sekadar tidak efektif namun berdampak signifikan terhadap performa website. Lantas, seperti apa praktik SEO yang dulu diandalkan tetapi kini justru terkesan outdated?
Perubahan Paling Mencolok di Halaman Hasil Pencarian
Perubahan dari algoritma Google yaitu yang dinilai bukan lagi halaman, melainkan paragraf.
Selama dua dekade, Google bekerja dengan menilai relevansi artikel dengan frasa pencarian pengguna. Kalau kamu menulis satu halaman yang bagus, halaman itu dinilai secara utuh, lalu ditempatkan di posisi tertentu jika memang relevant dengan apa yang sedang dicari.
Sistem berbasis jawaban AI bekerja berbeda. Ia membaca halaman suatu website, mengambil satu atau dua kalimat yang paling langsung menjawab pertanyaan, lalu menyusunnya bersama kutipan dari tiga sampai lima situs lain menjadi satu jawaban.
Dulu pertanyaan praktisi SEO “apakah artikelnya sudah menjawab pertanyaan user?” Sekarang pertanyaannya “adakah satu paragraf di artikel yang layak dikutip oleh AI?”
Tujuh praktik di bawah ini menjelaskan apa saja praktik SEO yang ketinggalan zaman setelah AI overview resmi menjadi bagian dari halaman hasil pencarian mesin pencari.
7 Praktik SEO yang ketinggalan zaman
1. Menulis untuk keyword, bukan untuk pertanyaan
Dulunya mungkin menargetkan contoh frasa “jasa desain interior jakarta” lalu menyebarkannya secara wajar di sepanjang artikel. Cara ini melemah karena sistem AI mencocokkan pertanyaan dengan jawaban, bukan frasa dengan frasa. Halaman yang disusun di sekitar frasa keyword sering tidak memuat satu kalimat sebagai jawaban utuh, jadi tidak ada yang bisa dikutip meskipun informasinya tertuang di sana.
Susun tiap subjudul sebagai pertanyaan yang diucapkan pembaca, lalu jawab tuntas di kalimat pertama di bawahnya. Keyword tetap valid, tapi lebih mengikuti pertanyaan, bukan sebaliknya.
2. Menulis artikel panjang demi kesan komprehensif
Artikel 2.000 kata dulu dianggap lebih berbobot daripada 1.000 kata, dan sering memang menang. Sekarang panjang tanpa struktur justru jadi bumerang dan menyulitkan mesin pencari menemukan bagian yang menjawab, sementara artikel 1.000 kata dengan jawaban tajam di tiap bagian jauh lebih mudah dikutip.
Yang perlu diukur adalah kualitas jawaban, bukan panjang artikel.
3. Menyimpan kesimpulan di bagian akhir
Membangun narasi lalu ditutup dengan kesimpulan memang struktur yang rapi, dan biasanya membuat pembaca lebih lama. Dengan update baru ini, mesin pencari mengutip dari mana saja, tetapi paragraf pembuka tiap bagian punya bobot kontekstual paling besar.
Sebaiknya pakai pola piramida terbalik di tiap bagian, kalimat pertama menyatakan kesimpulan, paragraf berikutnya menjelaskan alasannya.
4. Mengejar posisi 1 tapi kalah di posisi teratas
Artikel menempati posisi di hasil pencarian organik teratas tentunya adalah idaman semua praktisi SEO. Padahal sekarang banyak kueri informasional dengan posisi 1 justru berada di bawah blok AI Overview dan tidak dikutip sebagai informasi relevan.
Peringkat organik tetap penting, tetapi bukan lagi satu-satunya faktor yang menentukan apakah suatu jenama dilirik oleh pengguna.
5. Mengukur keberhasilan dari trafik saja
Saat membuat laporan tentang performa SEO, dulu rasanya kebanggaan tersendiri jika trafik organik naik berarti strategi SEO yang sudah dijalankan berhasil. Berbeda dengan sekarang, artikel makin sering dikutip AI Overview, impresi naik dan keberadaan jenama pun juga ikut naik, tetapi kliknya bisa justru stagnan.
6. Mengabaikan data terstruktur karena bukan faktor ranking
Masih banyak praktisi SEO melewatkan schema markup dengan alasan Google sendiri secara resmi menyatakan itu bukan faktor peringkat. Data terstruktur seperti itu memang tidak menaikkan peringkat, tetapi tetap berkontribusi menjelaskan secara jelas apa isi halaman situs, siapa penulisnya, apa jenis kontennya, dan yang mana bagian tanya jawab.
7. Menganggap GEO menggantikan SEO
Praktisi SEO menganggap Generative Engine Optimization diberitakan seolah menggantikan SEO. Padahal sistem AI Overview memilih relevansi kutipan dari halaman yang sudah terindeks dan sudah dianggap kredibel. Situs yang lambat, tidak terindeks, atau tanpa otoritas yang tidak akan dikutip.
GEO justru bekerja sebagai lapisan di atas SEO, bukan penggantinya. Fondasi dasar teknis, kecepatan situs, dan kualitas tulisan tetap menjadi standar penerapan SEO yang baik dan benar.
Yang Tidak Berubah dari Strategi SEO
Untuk menyelaraskan persepsi dan opini agar kita sama-sama align, sebagian besar strategi SEO tidak ke mana-mana.
Konten yang menjawab pertanyaan atas suatu frasa masih memegang peran penting. Tautan dari situs kredibel masih membangun otoritas dan narasi yang rapi masih membantu mesin pencari memahami situsmu.
Yang berubah hanya lapisan paling atas, bagaimana cara jawaban disajikan kepada pengguna.
Maka dari itu, jika kamu pernah membaca atau mendengar opini “SEO sudah mati” sebenarnya menurut pendapat kami, mereka menunjukkan hanya memahami lapisan paling atasnya saja.
FAQ
Apakah SEO masih relevan di era AI?
Tentu masih relevan. Sistem AI Overview mengambil kutipan dari halaman yang sudah terindeks dan dinilai kredibel oleh semua mesin pencari.
Apa bedanya SEO dan GEO?
SEO mengoptimalkan halaman agar muncul tinggi di daftar hasil pencarian. GEO mengoptimalkan konten artikel agar dikutip di dalam jawaban yang disusun sistem AI.
Kenapa impresi naik tapi klik turun?
Umumnya karena pertanyaan pengguna sudah terjawab di halaman hasil pencarian sebelum mereka mengklik. Tautan tetap tampil dan tetap terhitung sebagai impresi, tetapi jawabannya sudah tersaji di ringkasan AI di bagian atas.
Berapa lama sampai perubahan ini terlihat hasilnya?
Perkirakan empat sampai delapan minggu untuk melihat pergeseran pada halaman yang sudah terindeks dan punya trafik. Halaman baru butuh lebih lama karena harus melewati proses index dan penilaian awal lebih dulu.